Barisandata.co
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Kajian Utama
  • Ekonopedia
  • Indikator
  • Analisis
  • Sorotan
  • Khazanah
  • Kajian Utama
  • Ekonopedia
  • Indikator
  • Analisis
  • Sorotan
  • Khazanah
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Barisandata.co
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil

Beranda » Ekonomi RI Tumbuh, Awalil Rizky: MBG dan KDMP Dongkrak PDB, tetapi Kualitasnya Dipertanyakan

Ekonomi RI Tumbuh, Awalil Rizky: MBG dan KDMP Dongkrak PDB, tetapi Kualitasnya Dipertanyakan

06/11/2026
Waktu membaca: 5 menit
A A
kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia

Ilustrasi

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Awalil Rizky mengkritik pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47 persen yang dinilai belum berkualitas karena kontribusi MBG, KDMP, dan ekonomi digital terhadap PDB belum otomatis mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

BARISANDATA.CO – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,47 persen pada kuartal III-2026 dinilai belum cukup untuk menggambarkan kualitas perekonomian nasional.

Ekonom Awalil Rizky menyoroti kontribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), serta aktivitas perdagangan digital yang mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi belum tentu menghasilkan nilai tambah dan manfaat ekonomi yang optimal bagi masyarakat.

Kritik tersebut disampaikan Awalil melalui kanal YouTube-nya dalam tayangan bertajuk “Ekonomi Tumbuh tapi Tak Berkualitas. Dan Pemerintah Anggap Ini Bukan Masalah”, saat mengomentari berita Kontan.co.id mengenai pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tentang kontribusi MBG dan KDMP terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Menurut Awalil, kontribusi kedua program tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi memang dapat dibenarkan secara perhitungan statistik.

Namun, masyarakat perlu memahami bahwa kenaikan angka PDB tidak serta-merta mencerminkan keberhasilan program ataupun peningkatan kesejahteraan.

Dia menjelaskan, pembangunan fisik KDMP sudah masuk dalam penghitungan PDB meskipun sebagian koperasi belum beroperasi. Pembangunan kantor, gudang, dan fasilitas lainnya menghasilkan aktivitas ekonomi melalui penggunaan bahan bangunan, perdagangan barang input, serta pekerjaan konstruksi.

“KDMP dari sisi ini jelas memberikan kontribusi terhadap PDB karena yang dibangun masif,” jelas Awalil.

Namun, dia mengingatkan agar kontribusi pembangunan fisik tidak disamakan dengan keberhasilan operasional koperasi. Nilai tambah dan efek pengganda ekonomi akan berbeda ketika fasilitas tersebut benar-benar beroperasi dan menghasilkan aktivitas usaha yang produktif.

MBG Dongkrak Produksi, tetapi Manfaatnya Perlu Dibedakan

Awalil juga menyoroti kontribusi program MBG terhadap sektor makanan dan minuman. Dalam penghitungan PDB, produksi makanan yang disediakan melalui program tersebut tetap tercatat sebagai produksi barang dan jasa.

Bahkan, menurut dia, makanan yang sudah diproduksi tetap masuk dalam penghitungan produksi agregat meskipun kemudian tidak seluruhnya dikonsumsi, terbuang, atau mengalami kerusakan.

Dia menegaskan, penghitungan PDB pada dasarnya mencatat aktivitas produksi, bukan menilai manfaat atau kegunaan barang yang dihasilkan.

Untuk menjelaskan hal itu, Awalil memberikan perbandingan antara produksi beras dan produksi peluru. Keduanya sama-sama tercatat sebagai aktivitas produksi dalam penghitungan PDB.

Karena itu, kenaikan produksi makanan melalui MBG memang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, besarnya kontribusi terhadap PDB tidak otomatis menunjukkan besarnya manfaat program bagi masyarakat.

“Tidak salah Pak Airlangga ini MBG mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama dalam konteks penyediaan makan dan minum. Tapi nanti dulu, manfaatnya seberapa,” ujarnya.

Menurut Awalil, persoalan nilai produksi dan persoalan manfaat harus ditempatkan sebagai dua hal berbeda. Pertumbuhan PDB tidak dengan sendirinya menjawab apakah hasil produksi tersebut benar-benar memberikan manfaat optimal.

Perdagangan Digital Ikut Mengangkat Logistik, tetapi Ada Kontribusi Impor

Selain MBG dan KDMP, Awalil mengulas pertumbuhan ekonomi digital yang mendorong aktivitas sektor transportasi dan pergudangan.

Meningkatnya transaksi melalui marketplace memicu kebutuhan penyimpanan barang, pergudangan, serta pengiriman kepada konsumen. Aktivitas tersebut memberikan tambahan nilai terhadap perekonomian domestik.

Namun, dia mengingatkan adanya komponen barang impor dalam perdagangan digital yang perlu diperhitungkan ketika menilai kualitas pertumbuhan ekonomi.

Awalil memperkirakan, secara konservatif, sekitar seperempat hingga sepertiga barang yang diperdagangkan dalam aktivitas tersebut dapat berupa barang impor, bahkan mungkin lebih. Dia menggarisbawahi bahwa informasi mengenai proporsi tersebut belum cukup jelas.

Menurut dia, perdagangan barang impor memang tetap menghasilkan aktivitas ekonomi di dalam negeri, seperti pergudangan dan transportasi. Namun, nilai tambah domestiknya tidak sebesar apabila barang tersebut diproduksi, diolah, diperdagangkan, dan disimpan di Indonesia.

Dengan demikian, pertumbuhan sektor logistik dan pergudangan tidak selalu mencerminkan penguatan produksi dalam negeri secara sebanding.

Awalil menilai efek pengganda terhadap perekonomian nasional akan lebih besar apabila aktivitas ekonomi digital ditopang oleh produksi domestik.

Pertumbuhan 5,47 Persen dan Persoalan Persepsi Masyarakat

Dalam komentarnya, Awalil juga menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 sebesar 5,47 persen secara tahunan memang tergolong tinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Namun, tingginya angka pertumbuhan tersebut perlu dibaca secara hati-hati, terutama ketika masyarakat masih merasakan kondisi ekonomi yang sulit.

Dia menilai, persoalan muncul ketika pemerintah terlalu mengglorifikasi angka pertumbuhan ekonomi tanpa memberikan pemahaman memadai mengenai komponen yang mendorong kenaikan tersebut.

Di sisi lain, masyarakat yang tidak merasakan perbaikan ekonomi dapat mempertanyakan kesesuaian angka statistik dengan kondisi kehidupan sehari-hari. Situasi ini berpotensi memunculkan ketidakpercayaan terhadap data Badan Pusat Statistik (BPS).

Awalil mengingatkan bahwa ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi ekonomi tidak serta-merta membuktikan data BPS keliru.

Menurut dia, BPS merupakan lembaga statistik yang memiliki kewenangan dan sumber daya untuk menghitung pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, masyarakat perlu memahami metodologi dan karakteristik angka yang dipublikasikan.

Dia menyatakan masih dapat menggunakan dan cukup mempercayai data BPS, tetapi angka tersebut harus dipahami sesuai konteks pengukurannya.

PDB Harga Konstan Menjadi Dasar Penghitungan Pertumbuhan

Untuk memperjelas persoalan tersebut, Awalil menguraikan perbedaan PDB atas dasar harga berlaku (ADHB) dan PDB atas dasar harga konstan (ADHK).

Mengutip data yang disampaikan BPS, PDB Indonesia pada kuartal III-2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.741 triliun. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan tercatat Rp3.633,2 triliun.

ADHB menggambarkan nilai produksi barang dan jasa akhir berdasarkan harga yang berlaku pada periode bersangkutan. Adapun ADHK menggunakan harga pada tahun dasar untuk menghilangkan pengaruh perubahan harga.

Pertumbuhan ekonomi dihitung dengan membandingkan PDB atas dasar harga konstan pada periode tertentu dengan periode pembanding yang sama.

Awalil menjelaskan, pemahaman terhadap konsep tersebut penting agar masyarakat tidak hanya terpaku pada besarnya angka pertumbuhan, tetapi juga mengetahui aktivitas ekonomi apa saja yang membentuk angka tersebut.

Dia juga mengingatkan bahwa BPS mengelompokkan perekonomian ke dalam 17 sektor lapangan usaha. Setiap sektor memiliki karakteristik dan kontribusi berbeda terhadap pertumbuhan ekonomi.

Menurut Awalil, pembacaan terhadap pertumbuhan ekonomi harus memperhatikan komposisi sektoral, sumber nilai tambah, serta besarnya efek pengganda yang dihasilkan bagi perekonomian nasional.

Dia menilai, persoalan utama bukan semata-mata apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47 persen, melainkan bagaimana kualitas pertumbuhan tersebut dan sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat.

Dengan demikian, tingginya pertumbuhan ekonomi perlu diikuti evaluasi terhadap kualitas produksi, kekuatan ekonomi domestik, dan manfaat nyata dari berbagai program pemerintah. []

Video selengkapnya:

Tags: Airlangga HartartoEkonomiMakan Bergizi Gratis (MBG)
ShareTweetSend

Pos Terkait

Pengangguran turun di tengah PHK
Sorotan

BPS Catat Pengangguran Turun, Ekonom Bongkar Fakta Pahit di Balik Maraknya Badai PHK

04/11/2026

Terkini

kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia
Sorotan

Ekonomi RI Tumbuh, Awalil Rizky: MBG dan KDMP Dongkrak PDB, tetapi Kualitasnya Dipertanyakan

Oleh Lukni Maulana
06/11/2026

Ekonomi RI Tumbuh 5,47%

BacaDetails
Pengangguran turun di tengah PHK

BPS Catat Pengangguran Turun, Ekonom Bongkar Fakta Pahit di Balik Maraknya Badai PHK

04/11/2026
Narasi APBN Kita 2026 Menenangkan

Narasi APBN Kita Menenangkan, Padahal Kondisinya Masih Mengkhawatirkan

21/09/2026
rapbn 2027 boncos

Postur RAPBN 2027 Berisiko Makin Boncos

19/08/2026
Alokasi Anggaran BGN Terbesar

Alokasi Anggaran BGN Terbesar, Namun Tidak dalam Realisasinya

18/08/2026

Dasbor Makro

Panel Interaktif

Kenapa Sektor Industri Kita Tak Kunjung Maju? Apa yang Salah?
Kenapa Sektor Industri Kita Tak Kunjung Maju? Apa yang Salah?
Pemerintah Serius Gak Sih Menggenjot Sektor Industri?
Pemerintah Serius Gak Sih Menggenjot Sektor Industri?
Kok Makin Banyak Milenial yang Nganggur?
Kok Makin Banyak Milenial yang Nganggur?
Orang Berpendidikan Tinggi Susah Dapat Kerja di Indonesia
Orang Berpendidikan Tinggi Susah Dapat Kerja di Indonesia
Bisakah Indonesia Menikmati Bonus Demografi?
Bisakah Indonesia Menikmati Bonus Demografi?
Ada Jutaan Orang Indonesia Bekerja Tanpa Upah
Ada Jutaan Orang Indonesia Bekerja Tanpa Upah
Masih Ingat Video Pak Jokowi Soal Ekonomi Meroket?
Masih Ingat Video Pak Jokowi Soal Ekonomi Meroket?
Kejar Pertumbuhan Ekonomi di Atas 7%, Emang Pemerintah Bisa?
Kejar Pertumbuhan Ekonomi di Atas 7%, Emang Pemerintah Bisa?
Produksi Padi 2023 Terendah dalam 6 Tahun Terakhir
Produksi Padi 2023 Terendah dalam 6 Tahun Terakhir
Sektor-sektor Penyangga Pertumbuhan Ekonomi 2023
Sektor-sektor Penyangga Pertumbuhan Ekonomi 2023
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Secara Spasial
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Secara Spasial
Cadangan Devisa Indonesia Menurun di Februari 2024
Cadangan Devisa Indonesia Menurun di Februari 2024
Indonesia Masuk Negara Upper Middle Income Countries, Lalu Apa?
Indonesia Masuk Negara Upper Middle Income Countries, Lalu Apa?
Luas Lahan & Produksi Padi Makin Berkurang
Luas Lahan & Produksi Padi Makin Berkurang
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Layak Dibanggakan?
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Layak Dibanggakan?
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Disclaimer

Barisandata.co © 2024 hak cipta dilindungi undang-undang.

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Kajian Utama
  • Ekonopedia
  • Indikator
  • Analisis
  • Sorotan
  • Khazanah

Barisandata.co © 2024 hak cipta dilindungi undang-undang.

Kenapa Sektor Industri Kita Tak Kunjung Maju? Apa yang Salah? Pemerintah Serius Gak Sih Menggenjot Sektor Industri? Kok Makin Banyak Milenial yang Nganggur? Orang Berpendidikan Tinggi Susah Dapat Kerja di Indonesia Bisakah Indonesia Menikmati Bonus Demografi? Ada Jutaan Orang Indonesia Bekerja Tanpa Upah Masih Ingat Video Pak Jokowi Soal Ekonomi Meroket? Kejar Pertumbuhan Ekonomi di Atas 7%, Emang Pemerintah Bisa? Produksi Padi 2023 Terendah dalam 6 Tahun Terakhir Sektor-sektor Penyangga Pertumbuhan Ekonomi 2023 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Secara Spasial Cadangan Devisa Indonesia Menurun di Februari 2024 Indonesia Masuk Negara Upper Middle Income Countries, Lalu Apa? Luas Lahan & Produksi Padi Makin Berkurang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Layak Dibanggakan?