Barisandata.co
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Kajian Utama
  • Ekonopedia
  • Indikator
  • Analisis
  • Khazanah
  • Kajian Utama
  • Ekonopedia
  • Indikator
  • Analisis
  • Khazanah
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
Barisandata.co
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil

Beranda » Narasi APBN Kita Menenangkan, Padahal Kondisinya Masih Mengkhawatirkan

Narasi APBN Kita Menenangkan, Padahal Kondisinya Masih Mengkhawatirkan

21/09/2026
Waktu membaca: 4 menit
A A
Narasi APBN Kita 2026 Menenangkan

Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

APBN Agustus 2026 tampak terkendali, tetapi defisit, restitusi, SiLPA, dan kebutuhan utang memberi sinyal tantangan besar hingga akhir tahun.

Oleh: Awalil Rikzy
(Ekonom Bright Institute)

APBN Kita edisi September 2026 kembali dirilis Kementerian Keuangan, setelah sempat absen pada edisi Agustus. Salah satu narasi yang ditonjolkan antara lain defisit anggaran bisa dikendalikan cukup rendah, secara nominal maupun rasio. Pembiayaan Anggaran pun diklaim sudah on track.  

Defisit hingga akhir Agustus 2026 sebesar Rp240,1 triliun memang lebih rendah dibanding kurun serupa tahun lalu yang mencapai Rp321,3 triliun. Secara rasio atas PDB pun demikian, yaitu 0,93% berbanding 1,35%.

Pembiayaan Anggaran mencapai Rp473,5 triliun. Artinya terdapat Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp233,4 triliun. Bisa diartikan berutang telah melampaui kebutuhan dalam nilai yang cukup besar. Di sisi lain, mengindikasikan APBN dipersiapkan mengatasi defisit satu hingga dua bulan berikutnya.

Pembiayaan utang secara neto mencapai Rp506 triliun. Artinya, selama 8 bulan pertama tahun 2026 terdapat tambah utang sebesar itu karena pengelolaan APBN. Nilainya sudah termasuk pelunasan pokok utang, yang meski tidak diinfokan diprakirakan kisaran Rp650 triliun. Dengan demikian, penarikan utang baru secara bruto sebenarnya sekitar Rp1.150 triliun.  

Pendapatan dan Belanja hingga Akhir Tahun

Pendapatan Negara dilaporkan mencapai Rp2.055,6 triliun pada 31 Agustus 2026. Nilai itu tumbuh 25,4% dibanding kurun serupa pada 2025. Persentase capaian mencapai 65,2% dari APBN yang sebesar Rp3.153,6 triliun. Jauh lebih baik dari periode serupa tahun lalu yang 54,5%.

Penerimaan Perpajakan sebagai komponen utama tercatat meningkat 21,7% dan mencapai 60,1% dari target APBN. Khusus Penerimaan Pajak tumbuh 24,1% dan mencapai 59,8% dari targetnya.

Penerimaan Perpajakan dinilai lebih mencerminkan kondisi ekonomi domestik serta efektifitas kebijakan pemerintah. Lebih tampak lagi pada penerimaan Pajak, yang mengecualikan Bea dan Cukai dari Perpajakan. Wajar jika capaiannya hingga Agustus 2026 menjadi argumen tentang kondisi ekonomi serta kinerja pemerintah yang diklaim membaik signifikan.

Perlu diketahui bahwa prakiraan resmi Pemerintah (outlook) realisasi APBN 2026 yang disampaikan awal Juli lalu memang mengatakan Pendapatan akan melampaui target, yakni sebesar 101,7%. Akan tetapi, penerimaan perpajakan justru masih di bawah target (shortfall) sekitar 2,3% atau kekurangan sebesar Rp62,31 triliun.

Outlook menyajikan data yang menunjukkan Pajak Penghasilan (PPH) serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) juga akan shortfall. PPH akan sekitar 3,9% atau Rp46,45 triliun. PPN dan PPnBM hampir memenuhi target, yakni sekitar 99,8%. Sedangkan Cukai juga diprakirakan di bawah target, hanya sekitar 96,2%.    

Jika disandingkan dengan data APBN Kita, maka isyu restitusi yang masih ditahan cukup terbukti. Dalam paparan antara lain dinyatakan bahwa peningkatan PPh badan termasuk karena penurunan restitusi. PPh Badan secara neto tumbuh 25,5% dan secara bruto hanya 5,5%, dapat diartikan cukup banyak restitusi yang belum dibayarkan.

Kinerja penerimaan pajak dan perpajakan memang terbilang kinclong hingga Agustus 2026. Namun, dengan outlook yang memprakirakan shortfall, sebenarnya “pengakuan” atas komponen restitusi yang belum dibayarkan ke Wajib Pajak.

Jika dicermati lebih lanjut, salah satu yang paling menonjol dalam realisasi hingga Agustus 2026 adalah komponen Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP). PNBP tumbuh 41,7% dan telah mencapai 94,8% dari target.

Kinerja PNBP selama ini sangat bergantung pada dinamika global atau tidak dalam kendali kebijakan Pemerintah. Dinamika harga komoditas utama kadang memberi keuntungan tambahan, termasuk pada tahun 2026.

Pendapatan Kekayaan Negara Dipisahkan (KND) sebagai komponen PNBP dilaporkan sebesar Rp58 triliun, jauh melampaui target sebesar Rp1,8 triliun. Ternyata, hal itu disebabkan penerimaan dari surplus Bank Indonesia sebesar Rp55 triliun. Dengan kata lain, penerimaan ini tidak direncanakan oleh APBN 2026.

Sementara itu, Belanja Negara hingga Agustus 2026 tumbuh 17,1% dan sekitar 59,7% dari target. Belanja memang direncanakan meningkat dengan laju lebih rendah dibanding Pendapatan.

Meski demikian, masih perlu dilihat empat bulan berikutnya, mengingat beberapa realisasi besar biasanya memang pada triwulan empat. Salah satunya adalah pembayaran atas pembelian barang modal seperti alutsista strategis.

Upaya menjaga disiplin belanja agar sesuai rencana masih membutuhkan upaya serius Pemerintah. Banyak berita telah menginformasikan permintaan tambahan belanja dari berbagai Kementerian atau Lembaga, serta Pemerintah Daerah. Sebagiannya telah disetujui mitra komisi DPR dan dapat sinyal positif dari Kementerian Keuangan. 

Defisit Anggaran hingga Akhir Tahun

Meskipun defisit hingga akhir Agustus 2026 berhasil ditekan hanya sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% dari PDB, namun outlook memprakirakan kondisinya akan memburuk hingga akhir tahun. Menkeu baru pun masih mengkonfirmasinya, defisit akan kisaran 2,85% atau Rp734,32 triliun.

Dengan demikian, kinerja APBN hingga Agustus 2026 menjadi terkesan “dipoles” agar masih sangat baik. Padahal dari uraian di atas, laju kenaikan Pendapatan akan tertahan pada 4 bulan mendatang. Antara lain karena faktor restitusi dan tak adanya lagi surplus BI.

Sementara itu, laju kenaikan Belanja pun masih membutuhkan upaya keras dan disiplin Pemerintah. Permintaan tambahan dari sebagian Pemerintah Daerah memang layak dipenuhi. Namun, tambahan untuk berbagai Kementerian dan Lembaga sebaiknya tidak dipenuhi. Secara lebih khusus, upaya mengurangi alokasi untuk MBG dilakukan secara lebih signifikan.

Isyarat besarnya tantangan pengelolaan APBN hingga akhir tahun tampak disadari oleh Pemerintah, antara lain oleh pembiayaan neto yang besar dan menimbulkan SiLPA yang banyak. Dalam kondisi demikian, Pemerintah masih agresif mencari utang baru dengan penerbitan SBN pada September dan merencanakan penerbitan SBN valas lagi hingga akhir tahun.

Perlu diingat soal rencana Purbaya yang mengatakan diperintah Presiden Parbowo agar Danantara menyetorkan Rp120 triliun ke APBN. Meski kini sedang dibicarakan ulang oleh Menkeu baru dengan pihak Danantara, hal itu mengisyaratkan kekhawatiran terhadap capaian Pendapatan serta Defisit. []

Tags: APBNAPBN 2026APBN Kita
Awalil Rizky

Awalil Rizky

Ekonom Bright Institute, pembelajar ekonomi yang berupaya memberi informasi dan edukasi.

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan bukan tanggung jawab redaksi Barisanco.

Pos Terkait

rapbn 2027 boncos
Analisis

Postur RAPBN 2027 Berisiko Makin Boncos

19/08/2026
Alokasi Anggaran BGN Terbesar
Analisis

Alokasi Anggaran BGN Terbesar, Namun Tidak dalam Realisasinya

18/08/2026
Surat Utang Negara Valuta Asing Meningkat Porsinya
Analisis

Surat Utang Negara Valuta Asing Meningkat Porsinya

13/08/2026
Tafsir Keliru Ketua LPS
Analisis

Tafsir Keliru Ketua LPS Atas Data Simpanan di Bank

05/08/2026
danantara negara dalam negara
Analisis

Danantara Berpotensi Menjadi Negara dalam Negara

23/07/2026
laporan keuangan danantara
Analisis

Laporan Keuangan Danantara yang Tidak Jelas pada LKPP

23/07/2026

Terkini

Narasi APBN Kita 2026 Menenangkan
Analisis

Narasi APBN Kita Menenangkan, Padahal Kondisinya Masih Mengkhawatirkan

Oleh Awalil Rizky
21/09/2026

Narasi APBN Kita Menenangkan

BacaDetails
rapbn 2027 boncos

Postur RAPBN 2027 Berisiko Makin Boncos

19/08/2026
Alokasi Anggaran BGN Terbesar

Alokasi Anggaran BGN Terbesar, Namun Tidak dalam Realisasinya

18/08/2026
Surat Utang Negara Valuta Asing Meningkat Porsinya

Surat Utang Negara Valuta Asing Meningkat Porsinya

13/08/2026
Tafsir Keliru Ketua LPS

Tafsir Keliru Ketua LPS Atas Data Simpanan di Bank

05/08/2026

Dasbor Makro

Panel Interaktif

Kenapa Sektor Industri Kita Tak Kunjung Maju? Apa yang Salah?
Kenapa Sektor Industri Kita Tak Kunjung Maju? Apa yang Salah?
Pemerintah Serius Gak Sih Menggenjot Sektor Industri?
Pemerintah Serius Gak Sih Menggenjot Sektor Industri?
Kok Makin Banyak Milenial yang Nganggur?
Kok Makin Banyak Milenial yang Nganggur?
Orang Berpendidikan Tinggi Susah Dapat Kerja di Indonesia
Orang Berpendidikan Tinggi Susah Dapat Kerja di Indonesia
Bisakah Indonesia Menikmati Bonus Demografi?
Bisakah Indonesia Menikmati Bonus Demografi?
Ada Jutaan Orang Indonesia Bekerja Tanpa Upah
Ada Jutaan Orang Indonesia Bekerja Tanpa Upah
Masih Ingat Video Pak Jokowi Soal Ekonomi Meroket?
Masih Ingat Video Pak Jokowi Soal Ekonomi Meroket?
Kejar Pertumbuhan Ekonomi di Atas 7%, Emang Pemerintah Bisa?
Kejar Pertumbuhan Ekonomi di Atas 7%, Emang Pemerintah Bisa?
Produksi Padi 2023 Terendah dalam 6 Tahun Terakhir
Produksi Padi 2023 Terendah dalam 6 Tahun Terakhir
Sektor-sektor Penyangga Pertumbuhan Ekonomi 2023
Sektor-sektor Penyangga Pertumbuhan Ekonomi 2023
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Secara Spasial
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Secara Spasial
Cadangan Devisa Indonesia Menurun di Februari 2024
Cadangan Devisa Indonesia Menurun di Februari 2024
Indonesia Masuk Negara Upper Middle Income Countries, Lalu Apa?
Indonesia Masuk Negara Upper Middle Income Countries, Lalu Apa?
Luas Lahan & Produksi Padi Makin Berkurang
Luas Lahan & Produksi Padi Makin Berkurang
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Layak Dibanggakan?
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Layak Dibanggakan?

Discussion about this post

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Disclaimer

Barisandata.co © 2024 hak cipta dilindungi undang-undang.

Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Kajian Utama
  • Ekonopedia
  • Indikator
  • Analisis
  • Khazanah

Barisandata.co © 2024 hak cipta dilindungi undang-undang.

Kenapa Sektor Industri Kita Tak Kunjung Maju? Apa yang Salah? Pemerintah Serius Gak Sih Menggenjot Sektor Industri? Kok Makin Banyak Milenial yang Nganggur? Orang Berpendidikan Tinggi Susah Dapat Kerja di Indonesia Bisakah Indonesia Menikmati Bonus Demografi? Ada Jutaan Orang Indonesia Bekerja Tanpa Upah Masih Ingat Video Pak Jokowi Soal Ekonomi Meroket? Kejar Pertumbuhan Ekonomi di Atas 7%, Emang Pemerintah Bisa? Produksi Padi 2023 Terendah dalam 6 Tahun Terakhir Sektor-sektor Penyangga Pertumbuhan Ekonomi 2023 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Secara Spasial Cadangan Devisa Indonesia Menurun di Februari 2024 Indonesia Masuk Negara Upper Middle Income Countries, Lalu Apa? Luas Lahan & Produksi Padi Makin Berkurang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Layak Dibanggakan?