Investasi asing yang melambat di tengah derasnya arus modal keluar penduduk menjadi sinyal melemahnya ketahanan eksternal ekonomi Indonesia pada 2025 hingga awal 2026.
Oleh: Awalil Rizky
(Ekonom Bright Indonesia)
INVESTASI asing masuk sering dibanggakan Pemerintah, terutama jika nilainya bertumbuh dengan pesat. Kondisi tersebut dianggap sebagai indikasi makin kredibelnya perekonomian nasional, dan dinarasikan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Kondisinya justeru memburuk pada 2025 dan berlanjut pada triwulan I-2026.
Arus masuk dan keluar investasi asing dicatat oleh Bank Indonesia dalam Transaksi Finansial, yang merupakan bagian dari Neraca Pembayaran Indonesia. Investasi asing dicatat sebagai kewajiban, yang arus bersihnya dilaporkan untuk kondisi triwulanan dan tahunan. Pada 2025 bersifat masuk sebesar US$21,68 miliar dan pada Triwulan I-2026 sebesar US$4,21 miliar.
Nilai arus masuk modal asing pada 2025 sebenarnya terbilang rendah, melanjutkan kecenderungan sejak 2020. Kondisi triwulan satu mengindikasikan masih berlanjut pada 2026 ini. Modal asing masih enggan masuk sebesar era pracovid, yang sempat mencapai US$51,90 miliar pada 2019.
Pada saat bersamaan, Transaksi Finansial mencatat modal penduduk Indonesia yang keluar dan masuk Indonesia. Dicatat sebagai aset, yang arus bersihnya bersifat keluar sebesar US$25,70 miliar pada 2025, dan sebesar US$9,14 miliar pada Triwulan I-2026.
Dengan demikian, arus keluar modal penduduk melebihi arus masuk modal asing pada 2025. Padahal biasanya cenderung masuk, hanya keluar pada 2008 dan 2022 selama dua dekade ini. Kemungkinan keluar akan berlanjut pada tahun 2026 ini.
Neraca Transaksi Finansial menyajikan pula arus modal menurut jenis atau bentuknya, antara lain: investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya. Pada masing-masing disajikan pula catatan berdasar kepemilikan, modal penduduk (aset) dan modal asing (kewajiban).
Investasi langsung merupakan jenis investasi dengan kepentingan jangka panjang. Terkait dengan kepemilikan perusahaan atau turut serta dalam pengelolaannya. Bentuknya beragam, antara lain: pembangunan pabrik baru atau penambahan kapasitas produksi atas usaha yang telah dimiliki, pendirian usaha baru, pembelian saham untuk ikut mengelola usaha, dan lain sebagainya.
Arus investasi langsung modal asing masuk sebesar US$22,28 miliar pada 2025, dan sebesar US$3,13 miliar pada Triwulan I-2026. Arus masuk modal asing jenis investasi langsung selama beberapa tahun ini sejak 2020 relatif lebih sedikit dibanding era pracovid. Berdasar data triwulan satu, kemungkinan 2026 akan menjadi yang terendah satu dekade terakhir.
Sebaliknya dengan arus investasi langsung modal penduduk yang keluar, cenderung meningkat sejak 2022. Berdasar data triwulan satu, kemungkinan masih berlanjut pada 2026 ini.
Investasi portofolio antara lain berupa saham, obligasi korporasi, dan Surat Berharga Negara. Investor portofolio cenderung lebih bersifat spekulatif dibanding investasi langsung, karena tidak memiliki pengaruh yang cukup dalam perusahaan tempatnya berinvestasi. Investor portofolio terutama menimbang keamanan investasi, kemungkinan apresiasi nilainya, dan imbal hasil yang diperoleh.

Arus investasi portofolio modal asing keluar sebesar US$6,77 miliar pada 2025. Biasanya bersifat masuk, dan selama dua dekade ini hanya pernah keluar pada 2022 dan 2025. Pada Triwulan I-2026 memang kembali bersifat masuk sebesar US$2,43 miliar. Namun kemungkinan setahun belum akan mencapai nilai tahun-tahun sebelum covid.
Arus investasi portofolio modal penduduk keluar sebesar US$2,60 miliar pada 2025. Nilai keluarnya cenderung meningkat beberapa tahun terakhir. Berdasar data triwulan satu yang keluar US$1,70 miliar, maka kemungkinan pada 2026 menjadi yang terbanyak selama satu dekade terakhir.
Investasi Lainnya antara lain berupa utang dagang, pinjaman, serta uang dan simpanan di Bank atau lembaga keuangan. Dalam hal berupa uang dan simpanan, terdapat karakteristik spekulatif seperti jenis investasi portfolio. Jika kondisi atau keadaan berubah cepat, keduanya dapat dengan mudah menggeser investasi mereka ke wilayah atau negara lain.
Arus investasi lainnya modal asing masuk sebesar US$8,27 miliar pada 2025. Biasanya memang bersifat masuk, dan sejak 2008 hanya pernah keluar pada 2016. Berdasar catatan pada triwulan satu yang keluar sebesar US$1,05 miliar, sehingga ada kemungkinan bersifat keluar pada 2026.
Arus investasi lainnya modal penduduk keluar sebesar US$17,22 miliar pada 2025. Nilai keluarnya cenderung meningkat beberapa tahun terakhir. Berdasar data triwulan satu yang keluar US$6,75 miliar, maka kemungkinan pada 2026 menjadi yang terbanyak selama satu dekade terakhir.
Dengan demikian, arus neto investasi lainnya pada triwulan I-2026 telah bersifat keluar US$7,8 miliar. Setahun 2026 berpotensi melampaui nilai keluar pada 2025 yang US$8,95 miliar. Bentuk transaksi terbanyak dalam jenis ini adalah simpanan di lembaga keuangan.
Dari uraian di atas, kondisi arus transaksi finansial pada 2025 dan Triwulan I-2026 memberi indikasi yang kurang baik bagi ketahanan eksternal Indonesia. Modal asing masih enggan masuk sebesar biasanya, bisa dikatakan bersikap “wait and see”. Pada saat bersamaan, modal penduduk masih mengalir deras keluar.
Pada saat ini dan ke depan memang perlu diwaspadai faktor spekulasi dan berjaga-jaga para pemilik modal. Keduanya terutama ditentukan oleh persepsi risiko yang bersumber pada kondisi global dan dalam negeri. Pemilik modal akan menimbang lebih cermat atas keamanan dan keuntungan dalam kondisi yang diwarnai ketidakpastian, termasuk kebijakan pemerintah dan otoritas ekonomi lainnya. []




Discussion about this post